Nyanyian Jiwa Memperingati Hari Sumpah Pemuda


Jangan merenggut ekonomi kami
Pesan ini untuk tikus berdasi  para berdasi
Yang tak tau diri
Inikah negeri kleptokrasi
Semakin tahun semakin tak
teratasi
Haruskah seperti ini
Yang hanya mementingkan
kekuasaan dan pribadi
Rakyat jelata hanya bisa
menangis miris
Menangis menadahkan tangan
Namun tidak diperdulikan
Bagaimana nasib bangsa ini
Tanyakan saja pada mereka
yang tak mengerti bangsa ini?
Hancur, hancur , hancur
Bila orang berdasi terus
seperti itu
Haruskah kita melawan tanpa
lesu
Atau bayangkan tanpa kata
seakan akan
Tak ada api di meja politik
Kekuasaan hanya dijadikan
nafsu belaka
Aroma duniawi membuat mereka
lalai akan tugas
Lalai dari
tanggung jawab
Memang
itu yang bisa kau perbuat
Lari dan
lari
Padahal
kau punya pemerintah
Buat apa
pemerintah itu
Ya
pemerintah hanya mainan bonekamu
Dan
pion-pionmu
Atau
para bidak-bidakmu karena
Kau
memerintah seenak egomu
Tanpa
pikirkan akibatnya dulu
Ini
negeri kita bukan hanya negerimu
Karena
uang kini kau lupa tujuan
Dengan alasan ide iblismu
Kau iming-iming kebahagiaan
Hartamu, uangmu,
Dan kau pun semakin gila jabatan
Karena uang kau lupakan sumpahmu
Tanpa pedulikan yang di bawahmu
Semua orang pun menggeleng
Dan sambil berkata kau pengkhianat
Itulah sebutan yang pantas untukmu
Tapi kami tak inginkan sebutan itu saja
Kami ingin kau binasa
Atau mati hidup-hidup
Karena semua meronta
Hati kami terbakar
Kepala kami membara
Seperti bom yang akan meledak
Ya, meledak dijantungmu
Menyerah atau berhenti itu bukan kami
Karena semua kepalkan tangan berawal dari
nurani
Menjadikan kekuatan hancurkan tirani
Menyerah apa maksudmu
menyerah kami bukan manusia lesu
Bukan manusia yang tak punya
marah membara
Bukan manusia tanpa otak yang
tak tau apa-apa
Sebab kami berpegang teguh
pada kalian
Tidaklah hatimu pilu melihat
raungan si miskin
Mengapa yang kau risaukan
hanya kursi empukmu
Wahai pejabat dan wakil
rakyat
Lihatlah raungan kami yang
rindu keadilan
Keadilan yang telah hilang
negeri ini
Keadilan yang hanya berpihak
kepada tikus berdasi
Kami hanya ingin keadilan
bukan kemewahan
Kemewahan yang kau rampas
dari rakyat jelata
Nyanyian yang kau
koar-koarkan hanya penenang belaka
Janji yang kau utarakan hanya
omong kosong
Tak perdulikah engkau akan
kami
Yang menanti janji manismu
Jangan kau utarakan janji
yang takan kau tepati
Janji yang hanya akan membuat
luka untuk si miskin
Si miskin yang rindu akan
keadilan
Keadilan yang sudah
tidak  ada lagi di negeri ini
Rindu akan kemakmuran yang kau rasakan
Ingin rasanya hidup sederhana
Seperti tikus berdasi
Tikus berdasi yang tak terhormat
Coba kau piker
Bagaimana hidup sengsara
Bagaimana rasanya
Sungguh malang nasib negeri kita
Suap, sudah menjadi tradisi negeri kita
Mau jadi apa negeri kita ini !
Wahai para koruptor
Dengarlah rintihan kami
Suatu saat kami pasti bisa
Memberantas kau !
Dan melihat catatan hitam
Seakan taka da problema dalam
negri
Tak ada kesan penyesalan
diraut muka
Yang ada hanya rasa bangga
Berdiri tegak menentang
angina
Waktu berjalan sesuai arah
jarum jam
Tapi cita-cita bangsa tak
sesuai rencana
Jika masih ada yang duduk
manis dibangku kekuasaan kebanggaan
Bermandikan madu haram
Dan terlena akannya
Sebelum masa depan menyapa
anak bangsa
Aroma cita-cita kemakmuran
tak lagi tercium wangi
Bak bunga mawar dipinggir
taman
Dan hanya ada tanda tanya
Ketika bicara tikus berdasi
Wahai penguasa, pejabat dan wakil rakyat yang
terhormat
Tidakkah hatimu pilu bila melihat fondasi
bangunan rumahmu yaitu negaramu hancur
Tidakkah hatimu pilu bila  melihat kekayaan negara dikorupsi
beramai-ramai untuk keuntungan pribadi
Tidakkah hatimu pilu bila aparat semakin hari
lebih memilih hanya memperhatikan ketebalan dompet sendiri daripada jiwa
melayani bagi masyarakat dan bangsa
Tidakah hatimu pilu bila tidak ada aparat yang
berani berkorban untuk mengatasi permasalahan di masyarakat  tetapi malah membuat permasalahan sebagai
komoditas yang mampu diperdagangkan di bawah meja
Tidakkah hatimu pilu bila dana pembangunan
bangsa dan negara khususnya bagi rakyat miskin dikorupsi secara berjamaah
Tidakkah hatimu pilu bila dana yang dipakai
untuk kesehatan masyarakatdinusantara khususnya bagi rakyat miskin disunat
secara masal dari atas ke bawah
Tidakkah hatimu pilu bila dana pembangunan
bangsa dan negara khususnya bag rakyat miskin dimakan oleh koruptor baik yang
kelas kakap maupun kelas teri
Mengapa yang kau cemaskan hanya kursimu yang
empuk, kasurmu yang tebal, egoisme hatimu yang senantiasa seperti serigala
mencari mangsa, dan pikiran yang serasa ingin selalu menguasai dunia
Wahai penguasa, pejabat dan wakil rakyat yang
terhormat
Masih banyak jutaan, puluhan juta dan mungkin
ratusan juta rakyat miskin di negri ini
Meski mereka semua bisa kau tipu dengan suara
yang bisa dikarang indah
Tetapi hati nurani para pahlawan bangsa yang
sudah berjuang dengan darah dan keringat sejak bangsa ini selalu dijajah
Tidak akan bisa kau tipu
Mereka sedang menangis darah melihat masa depan
bangsa pelan-pelan hilang oleh nafsu dan hasrat kekuasaan di atas
segala-galannya
Oh, bangsa Indonesia
Sungguh malang nasibmu mempunyai pemimpin yang
tidak layak menjadi pemimpin
Tikus-tikus
berdasi…
Kau gerogoti rejeki rakyat negri
meski kau berpakaian rapi
tapi tak malu telanjang hati
Porak-porandakan negri
Tumbangkan cita Proklamasi
Rakusnya tikus-tikus berdasi…
Buat miris hati ini
lihat rakyat mini
ratapi nasip tak silih berganti
Tikus-tikus berdasi…
jangan racuni hati pemuda kami
jangan hancurkan masa depan negri
hanya demi kepentingan pribadi
Pemberantasan tak pernah henti
Tapi mengapa tetap jaya di sini
Wahai tikus-tikus berdasi!
Jangan
hancurkan negeri ini !
Rakyat menderita dan sengsara akan hidupnya
Para tikus berdasi seketika menjadi kaya raya
Mereka jadikan beton bak krupuk yang renyah
Aspal mereka makan mentah-mentah bak nasi
padang yang sangat menggoda
Keringat rakyat mereka jadikan air soda
penghilang dahaga
Rayat bekerja keras tak kenal lelah
Air mata rakyat mengalir begitu derasnya
Para tikus berdasi terbahak seolah ada
pertunjukan komedi yang sangat lucu
Tak ada rasa bersalah dengan apa yang mereka
lakukan pada rakyat yang telah memilihnya
Pemimpin lanjut menjarah hasil yang bukan
haknya
Meraka bermain seenaknya digedung parlemen
Mengubah segala yang bukan hak mereka menjadi
sesuatu yang halal
Rakyat hanya bisa meratap penuh penyesalan
Penyesalan yang tak bisa terbayarkan oleh
keserakan para lakon parlemen yang sangat serakah
Wahai
para penguasa dan pejabat di Republik ini.
Mereka
yang berpakian rapi.
Yang
mengandalkan profesi.
Mereka
yang selalu berdasi.
Ternyata
yang membodohi.
Negara
Indonesia adalah negara hukum.
Hukum
tak seperti di negri orang.
Pantaskah
jika para korupsi di beri hukuman berbulan-bulan atau seumur hidup saja ?
Korupsi
merugikan uang Negara yang jumlahnya milyaran bahkan triliunan.
Sepantasnya
hukuman para korupsi adalah hukuman mati.
Karena
korupsi melahirkan generasi terkini.
Untuk
menjajah negri sendiri
Rintihan rakyat meminta hak mereka
Ketika lelah dan tetesan keringat tak dihargai
Dimana hati sang perampas lembaran berharga
Lembaran yang bukan hak mereka
Apakah hati kalian sudah mati ?
Apa kalian tak merasakan tangisan
Kami tak meminta kedudukan
Hanya hak yang kami minta
Tikus berpangkat dan berpakaian rapi
Lihatlah kami yang tak berdaya
Jangan kau siksa kami dengan lelah tak
berhatimu
Kami sudah lelah dengan hidup kami
Jangan kau tambah dengan kelakuan tak bijakmu
Jangan kau kotori Negara ini dengan sikap
kepalsuanmu
Negara ini butuh kejujuran bukan kebohongan
Tolong jangan nodai Negara ini dengan semua
kebohongan dan sikap kejimu itu
Karena Negara ini Negara hukum bukan panggung
sandiwara
Dimana
kesejahteraan kita
Yang
kini semakin tak merata
Mana
janjimu wahai para penguasa
Yang
berjanji  akan mensejahterakan rakyatnya
Bangsaku
kini hancur
Hanya
karena ulah para orang tidak jujur
Para
korupsi kini kian menyukur
Kau
pembuat bangsaku hancur
Rakyat
kecil hanya bisa berdo’a
Dan
menanti kehidupan yang nyata
Yang
terusik pejabat Negara
Yang tak
punya hati untuk para rakyatnya
Tega berkhianat
kepada para bawahannya
Korupsi
dinegeriku kini merajalela
Dulu
negeriku makmur
Kini
semua hancur dan terkubur
Mimpi
Negara kau gempur
Dengan
keserakahan hati yang telah mengapur
Para
koruptor yang terhormat
Dulu
kalian pejabat yang terhormat
Pandai
sekali kalian berkhianat
Dengan
menyelewengkan amanat rakyat
Apakah kau pantas disebut wakil rakyat
Sedangkan kau tega menghisap keringat rakyat
Kau tega menyayat hati rakyat
Kau tega mengkhianati rakyat
Apakah kau tak sadar kau dulu mengemis hak
pilih
Kepada mereka yang terkadang sebenarnya enggan
memilih
Kau merintih-rintih  agar terpilih
Dengan sejuta rayuan belas kasih
Sadarkah kalian 
bertopeng dua
Manis didepan penguasa tertinggi Negara
Manis didepan para rakyat yang hatinya terluka
Karena itu ulahmu jua koruptor negara
Kalian tak pantas ada didunia ini
Kalian tak pantas menikmati hidup ini
Seharusnya kalian diberantas saja dari bumi
pertiwi
Atau dihukum mati.
Apa kau
patut disebut pahlawan
Apa kau
patut disebut sebagai matahari untuk semua orang
Apa kau
patut sebagai contoh untuk bangsa ini
Apa aku
patut memberikan kau tepuk tangan dengan sejuta kemeriahan
Aku sebagai
penerus bangsa ini malu
Aku malu
aku malu
Aku
terdiam melihat semua kenyataan menjijihkan ini
Aku muak
untuk semua ini
Aku
hanya bisa merasakan kejadian menjijikan ini dengan senyum sinisku
Apa kau
tidak memikirkan rakyat bangsa ini
Apa kau
tidak memiirkan anak cucumu kelak
Apa kau
tidak berfikir kedepan untuk membangun bangsa ini
Apa kau
tidak malu dengan pakainmu yang rapih
Apa kau
tidak malu dengan memakai seragam kebesaranmu beserta dasi indahmu
Apa kau
tidak malu dengan mereka yang tampil sederhana tapi memikirkan masa depan negri
ini
Apa kau
memikirkan masa depan bangsa ini
Apa kau
benar-benar tidak berfikir
Apa kau
hanya asik dengan  dunia gemerlapmu yang
penuh dengan kemunafikan semata
Apa kau
tak pernah berfikir atas yang kau perbuat untuk bangsa ini
Apakah
kau tidak pernah terlintas dibenakmu untuk membangun bangsa ini
Apa yang
ada dikepalamu hanya ada barisan  kertas
berwarna merah
Apa
hanya itu yang kau fikirkan wahai penjahat dengan memakai dasi indahmu itu
Siapa lagi???
Oh zaman edan…
Kapan engkau akhiri sebuah kemunafikan
Dan keangkara murkaanmu ini
Karena hidup ini terhimpit
Dengan sebuah 
adegan
para penghianat negri
Para 
tikus-tikus berdasi
Hari ini terbuka mata kita
Keluar dari kubangan
Yang ngeri ini
Arena 
korupsi ini
Mata batin kita jadi penyelamat
Untuk 
nilai-nilai  integritas bangsa
Untuk 
menyelamatkan negri
Dari hilangnya rasa kebangsaan
Siapa lagi kalau bukan kita pengemudi
keselamatan
Siapa lagi kalau bukan kita penjeguk hati bagi
Hati-hati yang mati…!!!
Hati- hati yang mati….!!!!
Dimana letak cinta tanah airmu ?
Dengan bangga kau menodai bangsamu sendiri
Dengan kepala tegak kau merampas uang rakyatmu
Wakil rakyat yang penuh dosa, ingatlah kepercayaan kami
Kepercayaan kami yang telah kami  beri
Kepercayaan kami yang telah kau ingkari
Rakyatmu menjerit mengungkapkan,
Ah, indonesiaku telah ternoda,
Wakil rakyat yang kami percayai itu telah merusak
ideologi bangsa Indonesia
Tak berkemanusiaan, hatinya telah mati
Hati nuraninya telah mati

Apa yang akan kau pertanggung jawabkan dengan negerimuini
Tahta, jabatan dan harta yang kau punya masih tak cukup
Berhentilah, bersikap bodoh itu hanya akan
menyengsarakanmu
Pikirkan rakyatmu, ingatlah indonesiamu
Mau jadi apa Negara ini?
Negara penuh dengan dosa
Korupsi berkeliaran dimana mana
Siapa yang akan bertanggung jawab dengan semua
ini
Hai para pemuda Indonesia
Kalian penerus bangsa ini
Jaga Negara ini dengan kejujuran
Musnahkan koruptor Negara ini
Hai para pemuda Indonesia
Jika kalian penjabat di negara ini
Jadilah pejabat yang bisa dipercaya dan
tanggung jawab
Sayangilah rakyat rakyatmu
Jangan kau makan uang mereka
Berikanlah yang terbaik untuk rakyatmu
Tau kah
kamu kami disini kelaparan
Menangis
kedinginan
Merasakan
perihnya penderitaan hidup
Kau yang
berbaju rapi, berdasi merah
Coba kau
lihat kami disini
Betapa
dekilnya kami dengan baju bolong bolong
Coba kau
lihat betapa keringnya kami karena menahan lapar dan terkena sengatan matahari
Kau
bilang kau kan adil
Kau akan
beri pekerjaan layak untuk kami
Tapi apa
nyatanya
Kau
justru grigit uang Negara yang berasal dari kami
Kau
kikis harta kami hanya untuk kepentinganmu !!
Indonesia
malu dengan adanya kamu wahai tikus elit 
Kau tak
hanya grogoti dan kikisi harta kamu
Tapi kau
juga sia-siakan kami saat di gedung ber AC!!
Kau
bilang wakil rakyat
Tapi tak
mewakili kami
Dimana
hati nuranimu wahai penguasa ??
Wahai penguasa, pejabat dan wakil rakyat
Mungkin mereka semua bisa kau tipu dengan suara
yang bisa dikarang indah
Sebenarnya siapa yang disebut korupsi itu,
Aku..kamu, mereka ha ha ha
Semua bisa berkorupsi dengan tipu suara
Yang dikarang indah,
Ya, kekuasaan sudah kotor
Bagaimana rakyat dibawahnya mau bersih 
Dimana mana korupsi beroperasi
Hingga kaulah jadi yang menguasai
Lalu aku bertanya kepada ibuku
Lawan korupsi atau korupsi ?
Tikus
Berdasi ???
Kau
bagaikan penyelamat bangsa
Berlaku
manis, bermulut manis
Seakan
kau peduli akan bangsa ini
Seakan
kau tak mau bangsa ini hancur
Tapi ,,,
Dibalik
semua itu
Kau
adalah pengkhianat bangsa
Kau yang
menghancurkan bangsa ini
Kau
mengambil hak-hak rakyat
Untuk
kepentinganmu sendiri
Tanpa
memikirkan akibatnya
Tanpa
memikirkan rakyat jelata
Mengapa
kau melakukan semua itu
Dimana
hati nuranimu
Wahai
tikus berdasi ???
Ketika manusia tanpa daya menanti sebuah
untaian harap
Harapan yang seakan-akan semu
Penantian harap yang seakan menjadi mimpi
belaka
Harapan dari manusia tak berhati
Kapan harap menjadi nyata ?
Kapan merdeka menghampiri kami ?
Kami yang ingin merdeka
Merdeka dari siksa manusia tak berhati
Wahai manusia tak berhati
Tak kau sedihkah melihat tangisan anak tak
berdosa
Tak kau menangiskah melihat manusia
meraung-raung akan kebahagiaan
Kebahagiaan yang kau rampas dari tangan kecil
kami
Bukan hanya tikus berdasi tapi tikus berpangkat
Yang membuat ulah tak berhati
Yang merubah suka menjadi duka mendalam
Wahai tikus berpangkat kembalikan hak kami
Berdoalah jika memang jalannya seperti itu,
Indonesia ku yang kini tlah berubah
Menjadi negara yang penuh dengan koruptor
Memamng sangat memprihatinkan
Menjadi urutan kedua di dunia bukankah seharusnya kita malu ?
Kenapa kita mengikuti langkah para koruptor itu
Sampah-sampah masyarakat dan Negara
Memporak-porandakan ke stabilitas ekonomi Negara
Membolak-balikan fakta kemiskinan penduduk
Memanipulasi pendapat Negara untuk memperkaya diri sendiri
Untuk perut mereka !
Seharusnya kalian malu dan membantah mereka
Tapi, kenapa kalian mengikutinya
Mengikuti hal yang salah
Hai, kalian, masyarakat Indonesia
Tegakan kepala kalian, lindungi bangsa ini
Brantas dan tolak korupsi semampu kalian
Jangan mau kalah dengan mereka para sampah masyarakat
Orang rendahan yang mengaku bahwa dirinya terpandang
Padahal mereka yang merusak nama bangsa ini
Dan bersembunyi dibalik layar, melepas tanggung jawab mereka
Lalu menikmati hasilnya…
Kau ingin itu ingin ini
Kau ingin kesan ingin kemari
Semua bisa terpenuhi
Dengan kebanggaan hati mu
Dengan harta kebangganmu
Tanpa kau sadari keegoisan diri
Lihatlah kami
Setai hari tenaga kami kerahkan
Hanya untuk sesuap nasi
Kau tak perduli dengan kesengsaraan kami
Di otakmu hanyalah fikiran untuk korupsi
Apa kau tak mendengar
Isak tangis miskin terdengar di segala penjuru
Perihnya luka dalam raga
Karena krisis ekonomi kami
Kami butuh kejujuran
Kami butuh hidup nyaman
Wahai kau koruptor
Jaga kehormatan bangsa ini
Kami butuh pertanggung jawaban atas segala
tindakanmu
Kami berlindung pada tanah pertiwi ini juga
tanggung jawab mu
Korupsi
tidak memandang  jabatan dan bawahan
Topeng
apapun tidak akan bisa menutupi bangkai korupsi
Sepintar
apapun orang bersandiwara
Pasti
akan berakhir juga
Untuk
apa anak-istrimu kau beri
Jika itu
hasil korupsi
Itu
hanya menambah derita dihati
Untuk
masa kini dan masa nanti
Dengan
kejamnya kau makan darah-darah orang lain
Demi
hidupmu yang megah ini
Tak  selamanya kemegahan engkau nikmati
Hingga
ajalmu menjelang nanti
Wahai  benih-benih penerus negri ini
Kobarkan
semangat dan berantas korupsi
Demi
indonesiaku tercinta ini
Aku siap
berjuang dan mengabdi
Negeriku yang malang
Rakyatku yang menderita
Koruptor yang merajalela
Itulah kepiluan yang tiada akhir
Di sini
Aku terpaku dengan tatapan kosong
Melihat , meratapi dan menangis
Tiadakah rasa iba kepada mereka
Para petani yang bekerja dengan basah keringat
Para nelayan yang berlayar diantara lautan deru
Para pedagang kecil yang gigih menjual
dagangannya
Walau tak seberapa upahnya
Namun lagi-lagi aku bertanya
Kenapa para pejabat dengan mudahnya
Mengambil uang yang bukan haknya
Sedangkan rakyat kecil harus bersusah payah
Kerja keras
Banting tulang
Dengan keringat yang bercucuran
Kenapa ?
Tentu engkau memiliki pengetahuan yang luas dari
rakyat kecil
Namun kemanakah imanmu ?
Dimanakah nuranimu ?
Hingga kau buta akan semuanya
Yang kau lihat hanyalah uang
Yang kau inginkan hanyalah kesenangan
Tanpa kau perdulikan kesengsaraan rakyat
Wahai
para koruptor
Tiadakah
engkau
Wahai koruptor
Ganti makananmu dengan nasi putih
Jangan makan hak kita
Lihatlah anak bangsa ini
Dengarlah rintihan kami
Apa engkau tak tau??
Payahnya hidup anak negri ini
Membanting tulang
Demi ingin mengais sesuap nasi dan pendidikan
Bangga kau melihatnya?
Kamu banga dengan apa yang kau dapat
Kau hanya duduk manis
Uang-uang kami kau poroti
Tapi ingat
Suatu saat kami pasti bisa
Memberantas kau
Tutuplah matamu,hatimu,bahkan telingamu
Tutuplah tutup ….
Janganlah kau dengar kicauan oraang diluar sana
Jangan kau lihat celoteh mulut yang bergumam
Dan jangan kau pikirkan tentang celoteh dan
kicau sindiran yang begitu merdu
Agar kau puas akan keserakahanmu dan  nafsumu
Bahkan kau tak pernah berfikir betapa beratnya
akan baju berdasimu itu
Berat apaa ?
Ingatkah kau,berat yang kau pikul adalah
tanggungjawabmu
Semua sirna menjadi sebuah dosa besar yang kau
perbuat
Kau rampas hak orang lain, kau rebut rezeki
mereka
Kaupun tega memakan darah dari saudara kau
sendiri
Kau juga tak perduli berapa banyak peluh yang
mereka keluarkaan untuk semua hasil itu
Tega nian kau yang berada di atas singgah sana
tuan
Apakah kau tak pernah berfikir azab yang akan
datang menghampirimu
Azab yang senantiasa melambai-lambai bak nyiur
yang gemulai ,
yang tanpa kau rasa kian hari kian mendekatimu
Kelak 
setiap detik,menit ,jam dan setiap saat kesalahnmu akan menghantuimu
Merasuki dirimu membuat gila pikiranmu
jiwamupun akan resah wahai tuan
Kau harus tahu 
karena setiap perbuatan akan ada balasannya
Segerelah sadar wahai tuan diatas singgah sana
Bahwa 
hukuman yang akan kau terima di dunia fana ini belumlah seberapa
Hukuman dari-Nyalah yang lebih berat dan
menyakitkan
Dan itulah hukuman yang sebenarnya wahai tuan
Sudah kau terima didunia masih kau terima pula
diakhirat azabmu
Wahai tuanku sadarlah ,sadarlah segera
Agar Yang Maha Kuasa segera mengampunimu dan
membimbingmu menjadi makhluk yang lebih baik dan mulia
Wahai
penguasa yang tidak merasa berdosa
Enak nya
engkau menikmati harta yang melimpah ruah
Hidup
bagai seorang miliader yang merdeka
Dengan
tahta yang disandingnya
Kau
berjalan tegak ke depan tanpa menoleh ke belakang
Kau
berjalan tanpa malu dengan berbagai selogan yang dijanjikannya
Kau
adalah wakil seruan suara kami wahai sang petinggi
Tapi
mengapa kau menyengsarakan hak kami
Kami
rakyat kecil hanya dapat menangis dikesembunyian malam
Ingin
rasanya kami membrontak dengan kalian wahai para koruptor
Yang
hidup bergelimangan harta dan tahta hasil keringat rakyat
Tahukah
kau para koruptor.
Hak
rakyat telah diambil oleh mu
Kebahagiaan
dan senyuman rakyat telah dihilangkan oleh mu
Rakyat
sebenarnya telah marah dengan perlakuanmu
Rakyat
ingin membunuhmu wahai orang tak merasa berdosa
Tapi
kami sadar kau lah pemimpin kami
Wahai
penguasa bangsa sadarlah akan kewajibanmu
Kebahagiaan
rakyat adalah kewajibanmu
Hidup mu
dari rakyat dan seharusnya untuk rakyat
Wahai
para penguasa bangsa
Sadarlah
akan kewajibanmu membahagiakan rakyat
Sadarlah
dengan perilaku mu yang salah
Kami
rakyat sangat mendambakan hidup sejahtera dengan hak yang semestinya
NEGARA KITA BUTUH ORANG SEPERTI
APA?
N.S
Malam
itu aku duduk di atas pasir
Dan
kulihat ada seorang pria
Pria
tua katanya
Rambutnya
putih, giginya ompong, kulitnya sudah keriput
Ia
berkata:
Aku
adalah orang tua bekas pemangku rakyat
Pernah
duduk di atas singgahsana
Namun,
aku terbuang oleh perilaku Makar
Mungkin
INDONESIA tak butuh orang sepertiku
Yang
jujur dan tak doyan kekuasaan
Aku
hanya Ratu Adil
Pengabdi
masyarakat
Tapi,
INDONESIA
butuh orang seperti mereka
Pemerintahan
yang suka akting
Pemerintahan
yang suka duduk di singahsana
Lalu
dipuja
Akulah
penguasa negeri
Dan
apakah benar indonesia butuh orang seperti mereka?
Pemerintahan
yang suka makan uang rakyat
Pemerintahan
yang suka kolusi
Pemerintahan
yang suka nepotisme
Pemerintaham
yang suka menerima amplop merah
Uang
Khawe, uang dengar, uang tutup mulut,
uang diam, uang tinta
Pungli,
mel-melan, salam tempel, amplopan, apel malang, semangka, pelumas
Nyatut,
JPS, TST
Lalu,
pemerintah yang suka melihat rakyat menangis
Rakyat
mati kelaparan
Rakyat
mati tak mampu beli obat
Atau
anak-anak kecil yang jadi pengamen
Lalu
dianggap sebagai sampah masyarakat
Mereka
disalahkan karena menjadi sampah masyarakat
Orangtua
mereka disalahkan karena tak mampu mendidik
Orangtua
disalahkan karena mengeksploitasi anaknya
Sementara,
untuk tidur mereka masih berpikir tidur di mana?
Untuk
makan, mereka makan dengan apa?
Dan
masihkan ini salah mereka
Ini
salah pemerintah
Mereka
yang memakan jatah makan orang-orang miskin
Mereka
yang memakan jatah pendidikan orang miskin
Jelas,
mereka itulah yang disebut tikus-tikus berdasi
Mereka
Maling di negeri sendiri
Tikus-tikus
kantor yang menyukai uang semir
Seperti
sosok Anggoro yang disebut kadal blingsatan
Seperti
Nazarudin sosok parasit negeri
Benarkah
bumi kita untuk dijadikan ladang subur bagi sang tikus, parasit, cicak, kadal,
dan sekutunya?
Negeri
ini tubuh dari ras, suku, yang berbeda
Kemudian
menyatu dengan darah untuk merdeka
Kenapa
sekarang dihancurkan dengan para penindas rakyat
Tidak…
kamu adalah jawabanya
Kamu
adalah kuncinya
Moralmu
adalah gemboknya
Kamu
pemuda penerus bangsa
Mari
kita singsikan lengan kita, lalu terjun dan binasakan mereka

0 Response to "Nyanyian Jiwa Memperingati Hari Sumpah Pemuda"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel