Hyang Semeru dan Ratu Kidul ,Dua Kutub Kesadaran Nusantara. Artikel Opini :
Februari 16, 2026
Add Comment
Pertanyaan ini membawa kita ke inti terdalam kosmologi Jawa–Bali, tempat gunung dan laut tidak dipertentangkan, melainkan dipersatukan. Hyang Semeru dan Ratu Kidul bukan legenda terpisah, melainkan dua kutub kesadaran yang menjaga keseimbangan dunia Nusantara.
Tulisan ini bukan kisah mistik populer, melainkan pembacaan kosmologis—berdasarkan babad, serat, dan logika spiritual leluhur.
I. Dunia Tidak Pernah Tunggal: Prinsip Dua Kutub
Dalam pandangan leluhur Jawa–Bali, semua yang hidup selalu memiliki pasangan:
- atas dan bawah,
- terang dan gelap,
- diam dan bergerak.
Tanpa pasangan, dunia menjadi timpang.
Hyang Semeru berdiri sebagai kutub atas—poros ketertiban, kesadaran, dan dharma.
Ratu Kidul hadir sebagai kutub bawah—kekuatan purba, pelepasan, dan samudra bawah sadar.
Ini bukan konflik, melainkan tarikan suci.
II. Hyang Semeru: Poros Naik Kesadaran
Hyang Semeru bukan hanya gunung tertinggi di Jawa, tetapi simbol paku dunia. Dalam kosmologi Nusantara, gunung berfungsi sebagai:
- penstabil bumi,
- tempat turunnya wahyu,
- poros batin manusia.
Dalam Tantu Panggelaran, dikisahkan bahwa Jawa awalnya belum mantap hingga para dewa menanam gunung suci. Ini bukan dongeng geologi, melainkan narasi kosmik tentang penanaman kesadaran.
> “Tanah Jawa dipaku agar tidak oleng.”
Maknanya jelas: tanpa pusat batin, peradaban akan goyah.
III. Ratu Kidul: Kutub Turun Kesadaran
Berbeda dengan pemahaman populer, Ratu Kidul bukan sekadar ratu laut. Ia adalah personifikasi kekuatan samudra purba, alam bawah sadar kolektif, dan daya pelebur.
Dalam Babad Tanah Jawi, Ratu Kidul muncul bukan sebagai makhluk jahat, melainkan penguasa wilayah niskala yang harus dihormati agar keseimbangan terjaga.
Laut Selatan bukan wilayah jinak. Ia adalah:
- tempat kembalinya ego,
- ruang pelepasan bentuk,
- rahim kehancuran sekaligus kelahiran ulang.
Karena itu, Ratu Kidul melambangkan pradhana—materi kosmik yang tak boleh dilecehkan.
IV. Hubungan Sakral: Bukan Pernikahan, tapi Perjanjian Kosmik
Narasi populer sering menyederhanakan hubungan penguasa Jawa dengan Ratu Kidul sebagai “pernikahan mistik”. Padahal, dalam pembacaan serat, hubungan itu lebih tepat disebut perjanjian kosmik.
Seorang raja dianggap sah bukan karena darah, melainkan karena mampu menjaga keseimbangan gunung dan laut.
Dalam Serat Centhini, ditegaskan bahwa:
> kekuasaan sejati lahir dari pengendalian diri, bukan dari penguasaan makhluk halus.
Hyang Semeru memberi arah naik,
Ratu Kidul menjaga batas turun.
Raja berada di tengah.
V. Segitiga Kosmik Nusantara
Di sinilah arsitektur suci Nusantara terbaca jelas:
1. Gunung (Hyang Semeru) → kesadaran, hukum kosmik, dharma
2. Laut (Ratu Kidul) → pelepasan, kekacauan terkontrol, pradhana
3. Manusia → penjaga keseimbangan
Jika manusia condong ke gunung saja:
- ia kaku,
- menolak bayangan,
- terjebak kesucian palsu.
Jika condong ke laut saja:
- ia larut,
- kehilangan arah,
- tenggelam dalam nafsu.
Kesadaran sejati berdiri di antara keduanya.
VI. Makna Batin: Gunung & Laut di Dalam Diri
Leluhur Nusantara tidak memisahkan kosmologi dan psikologi.
Dalam diri manusia:
- Hyang Semeru = tulang punggung moral, kesadaran luhur
- Ratu Kidul = emosi terdalam, trauma, dorongan purba
Spiritualitas bukan menyingkirkan Ratu Kidul batin,
melainkan mengakui dan menatanya.
> “Sing ora wani mudhun, ora bakal tau tekan puncak.”
Tanpa berani menatap laut batin, gunung kesadaran akan rapuh.
VII. Mengapa Keduanya Selalu Hadir Bersamaan?
Banyak fenomena alam dan sosial di Jawa selalu memperlihatkan gerak berpasangan:
- gunung bergolak → laut berubah,
- krisis moral → gejolak alam,
- pemimpin jatuh → kekacauan sosial.
Dalam serat Jawa disebut:
> “Nalika pusering jagat goyah, segara lan gunung padha gumregah.”
Ini bukan ancaman, tetapi bahasa koreksi kosmos.
VIII. Relevansi Zaman Kini
Di zaman modern, manusia:
- mengeruk gunung tanpa hormat,
- mencemari laut tanpa takut,
- memutus diri dari keseimbangan leluhur.
Akibatnya:
- bencana dianggap musuh,
- alam dianggap lawan,
- spiritualitas jadi tontonan.
Padahal pesan leluhur sederhana: gunung dihormati, laut dipahami, manusia disadarkan.
Hyang Semeru dan Ratu Kidul bukan dua kekuatan yang saling bermusuhan.
Mereka adalah dua kutub yang saling menjaga.
Gunung tanpa laut menjadi kering.
Laut tanpa gunung menjadi liar.
Dan manusia—
jika lupa posisinya di tengah—
akan kehilangan arah.
Selama Nusantara masih mengingat keseimbangan ini,
tanah ini akan tetap disebut tanah penyangga dunia.
(EKO).
Pemerhati Ngelmu "Suwung"
0 Response to "Hyang Semeru dan Ratu Kidul ,Dua Kutub Kesadaran Nusantara. Artikel Opini :"
Posting Komentar