Mengkaji tokoh " Sabdo Palon " di Akhir Jaman Rusak
Februari 18, 2026
Add Comment
Fiksi Opini
Sabdo Palon sebagai Simbol Kesadaran yang Akan Bangkit Kembali
Bukan Kembalinya Tokoh, Melainkan Kembalinya Roso
Pendahuluan — Mengapa Nama Sabdo Palon Selalu Kembali?
Di setiap zaman guncang, nama Sabdo Palon selalu muncul kembali.
Ia dibicarakan ketika manusia merasa:
- agamanya ramai tapi kosong
- budayanya hidup tapi kehilangan jiwa
- dan dunia terasa maju tapi tak punya arah batin
Namun sejak awal, leluhur tidak pernah menempatkan Sabdo Palon sebagai manusia biasa. Ia bukan raja, bukan nabi, bukan pahlawan perang.
Ia adalah sabda—suara kesadaran.
I. Siapakah Sabdo Palon Sebenarnya?
Dalam kisah Jawa kuno, Sabdo Palon adalah abdi batin raja—bukan penguasa.
Ia tidak memerintah, tetapi mengingatkan.
Ia tidak tampil di depan, tetapi menentukan arah dari belakang layar.
Secara simbolik:
- Sabdo berarti suara atau sabda
- Palon bermakna dasar, pijakan, atau fondasi
Sabdo Palon = suara dari fondasi kesadaran manusia.
Ia muncul ketika manusia:
- terlalu sibuk mengatur dunia luar
- lupa mendengarkan batin terdalamnya
II. “Janji Kembali” — Ramalan yang Sering Disalahpahami
Dalam tradisi lisan Jawa, dikenal pesan:
“Ingsun bakal bali,
nalika wong Jawa wis kelangan Jawane.”
Sering ditafsirkan sebagai:
“Sabdo Palon akan lahir kembali secara fisik.”
Padahal, leluhur Jawa tidak berpikir literal seperti itu.
Makna batinnya:
Kesadaran akan bangkit kembali ketika manusia sudah terlalu jauh dari dirinya sendiri.
Yang “kembali” bukan tokohnya,
melainkan roso yang lama tertidur.
III. Sloka Penyangga Makna — Bunyi & Arti
Sarasamuscaya menegaskan:
“Roso ika pinaka hetuning dharma.”
Arti:
Rasa adalah sebab utama dharma dapat hidup.
Tanpa rasa, dharma menjadi aturan kering.
Tanpa rasa, agama menjadi alat.
Bhagavad Gita VI.5 menyatakan:
“Uddhared ātmanātmānaṁ.
Arti:
Manusia harus membangkitkan dirinya sendiri melalui kesadarannya.
Tidak ada penyelamat dari luar.
Sabdo Palon bukan datang, tapi bangkit dari dalam.
IV. Kisah Simbolik — Sabdo Palon dan Raja yang Berubah Arah
Dalam kisah runtuhnya Majapahit, Sabdo Palon digambarkan meninggalkan istana, bukan karena marah, tetapi karena:
raja tidak lagi mendengar suara batin,
hanya mendengar suara kekuasaan.
Ini bukan kisah politik.
Ini kisah pergeseran kesadaran:
dari rasa ke ambisi
dari harmoni ke dominasi
Saat Sabdo Palon “pergi”, yang hilang bukan figur
yang hilang adalah penjaga keseimbangan batin.
V. Tanda Sabdo Palon “Bangkit” di Zaman Sekarang
Kebangkitan Sabdo Palon tidak ditandai oleh keajaiban,
melainkan oleh gejala sunyi:
- manusia mulai muak pada kemunafikan
- lelah pada simbol tanpa makna
- mempertanyakan agama tanpa etika
- dan rindu hidup yang jujur, sederhana, selaras
Ini adalah tanda:
"sabda batin mulai terdengar kembali.
Dalam bahasa Jawa:
“Ati wis wiwit krungu swarane dhewe.”
Hati mulai mendengar suaranya sendiri.
VI. Kupasan Zaman — Mengapa Kesadaran Ini Muncul Sekarang?
Karena dunia telah mencapai titik:
- informasi melimpah, tapi kebijaksanaan langka
- kebebasan luas, tapi jiwa terikat
- spiritualitas ramai, tapi kesadaran sepi
Inilah yang oleh leluhur disebut jaman kabur—
zaman ketika arah hidup tidak lagi jelas.
Sarasamuscaya mengingatkan:
“Tan hana guna jñāna tanpa wiweka.”
Arti:
Pengetahuan tanpa kebijaksanaan tidak membawa manfaat.
Sabdo Palon adalah simbol wiweka—kemampuan membedakan yang hidup dan yang mati secara batin.
VII. Bagaimana Bersikap — Menjadi Ruang Bangkitnya Sabdo Palon
Leluhur tidak meminta kita:
- menunggu tokoh
- menanti zaman berubah
Mereka meminta:
menjadi wadah bagi kesadaran itu sendiri.
Berani Jujur pada Diri Sendiri
Sabdo Palon hidup saat manusia:
- mengakui luka
- mengakui ketidaktahuan
- berhenti berpura-pura suci
Menghidupkan Roso dalam Laku Harian
Bukan lewat ritual besar, tapi:
- cara bicara
- cara memilih
- cara memperlakukan sesama
Tidak Terjebak Fanatisme Simbol
Sabdo Palon tidak berpihak pada:
- agama tertentu
- budaya tertentu
Ia berpihak pada kesadaran yang hidup.
Bhagavad Gita XII.15 menegaskan:
“Yo na hṛṣyati na dveṣṭi…”
Arti:
Ia yang tidak membenci, tidak melekat, dan tidak sombong—dialah yang dekat dengan kesadaran sejati.
Penutup — Sabdo Palon Tidak Datang, Ia Terbangun
Sabdo Palon tidak akan lahir sebagai manusia.
Ia lahir sebagai:
- kejujuran
- keberanian batin
- kesadaran yang tidak bisa dibeli
Selama masih ada manusia Nusantara yang:
- eling
- berani mendengar suara batin
- dan hidup dengan rasa
Sabdo Palon tidak pernah pergi.
Ia hanya menunggu manusia cukup sunyi untuk mendengarnya kembali.
( Penulis : Pemerhati Spiritual )
0 Response to "Mengkaji tokoh " Sabdo Palon " di Akhir Jaman Rusak"
Posting Komentar