Dugaan Korupsi Ferdi Ardiansyah Tinjauan dari Pengamat Hukum


Kejahatan berprofil tinggi memiliki karakteristik nilai ekonomi yang dipersoalkan sangat besar, struktur organisasinya rumit, jejaring sosial dan birokrasinya luas, serta melibatkan hubungan kekuasaan yang tidak sederhana.


Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Fenomena 'High-Profile Crime'

Kejahatan berprofil tinggi memiliki karakteristik nilai ekonomi yang dipersoalkan sangat besar, struktur organisasinya rumit, jejaring sosial dan birokrasinya luas, serta melibatkan hubungan kekuasaan yang tidak sederhana.

Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti Azmi Syahputra. Foto: Istimewa
Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti Azmi Syahputra.

Perkara dugaan korupsi yang menjerat eks Jaksa Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, terus menuai perhatian publik. Bahkan, ada kesan penanganan kasus ini seolah pertarungan antar penegak hukum di institusi yang berbeda. Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti, Azmi Syahputra, mengatakan sebelumnya ada istilah ‘Cicak vs Buaya,’ tapi sekarang ‘dinosaurus’ dalam ekosistem aktor-aktor strategis kekuasaan yang saling berhadapan.

Menurut Azmi, perkara ini tidak lagi dipersepsikan semata sebagai proses pidana, tapi juga indikator perubahan konfigurasi lingkaran kekuasaan. Aktor-aktor lama yang memiliki pengaruh besar dalam struktur birokrasi dan jaringan kekuasaan kembali berselancar. Kasus yang sedang bergulir sekarang lebih rumit daripada ‘Cicak VS Buaya.’

“Para ‘dinosaurus,’ aktor-aktor besar yang selama bertahun-tahun hidup dan tumbuh dalam ekosistem kekuasaan yang sama, kini saling berhadapan,” kata Azmi dikonfirmasi, Kamis (30/7/2026).

Anda bosan baca berita biasa?
Kami persembahkan untuk Anda produk jurnalisme hukum terbaik. Kami memberi Anda artikel premium yang komprehensif dari sisi praktis maupun akademis, dan diriset secara mendalam

Azmi menggunakan istilah ‘dinosaurus’ sebagai metafora terhadap kelompok elite yang memiliki pengaruh besar, menguasai sumber daya, memahami anatomi birokrasi, mengetahui peta kekuasaan, serta pernah berada dalam jabatan strategis. Ketika para aktor dengan kapasitas dan pengetahuan seperti itu berada dalam posisi kepentingan yang berseberangan, perkara pidana tidak lagi dipersepsikan masyarakat hanya sebagai proses pembuktian hukum, tapi terseret politik hukum

Proses penegakan hukum dalam perkara eks Jampidsus Febrie Adriansyah ini penuh dinamika. Mulai dari penggeledahan di beberapa lokasi, penahanan tanpa rompi dan borgol, mundurnya beberapa pejabat, dan lainnya. Dalam perkara kejahatan yang bernilai ekonomi sangat besar ini, diikuti dugaan korupsi, pencucian uang, penyalahgunaan kewenangan, dan indikasi keterlibatan berbagai pihak, kerap menarik perhatian publik, sehingga muncul banyak pendapat dan tafsir.

“Fenomena ini dapat dipahami dalam perspektif kriminologi sebagai konsekuensi dari karakter high-profile crime karenanya perlu ditindaklanjuti dengan follow the money/asset/crime/beneficial owner termasuk badan hukum yang dipergunakan dan terafliasi dalam kejahatan dimaksud,” saran Azmi.

, terus menuai perhatian publik. Bahkan, ada kesan penanganan kasus ini seolah pertarungan antar penegak hukum di institusi yang berbeda. Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti, Azmi Syahputra, mengatakan sebelumnya ada istilah ‘Cicak vs Buaya,’ tapi sekarang ‘dinosaurus’ dalam ekosistem aktor-aktor strategis kekuasaan yang saling berhadapan.

Menurut Azmi, perkara ini tidak lagi dipersepsikan semata sebagai proses pidana, tapi juga indikator perubahan konfigurasi lingkaran kekuasaan. Aktor-aktor lama yang memiliki pengaruh besar dalam struktur birokrasi dan jaringan kekuasaan kembali berselancar. Kasus yang sedang bergulir sekarang lebih rumit daripada ‘Cicak VS Buaya.’

“Para ‘dinosaurus,’ aktor-aktor besar yang selama bertahun-tahun hidup dan tumbuh dalam ekosistem kekuasaan yang sama, kini saling berhadapan,” kata Azmi dikonfirmasi, Kamis (30/7/2026).


Anda bosan baca berita biasa?
Kami persembahkan untuk Anda produk jurnalisme hukum terbaik. Kami memberi Anda artikel premium yang komprehensif dari sisi praktis maupun akademis, dan diriset secara mendalam.
Baca Juga:

Kasus Febrie Adriansyah, Dua Isu Hukum Ini Berpotensi Menjadi 'Senjata' Praperadilan

Kasus Febrie Adriansyah Ujian Kredibilitas Penegakan Hukum, Akademisi: Semua yang Terlibat Harus Dibongkar

Azmi menggunakan istilah ‘dinosaurus’ sebagai metafora terhadap kelompok elite yang memiliki pengaruh besar, menguasai sumber daya, memahami anatomi birokrasi, mengetahui peta kekuasaan, serta pernah berada dalam jabatan strategis. Ketika para aktor dengan kapasitas dan pengetahuan seperti itu berada dalam posisi kepentingan yang berseberangan, perkara pidana tidak lagi dipersepsikan masyarakat hanya sebagai proses pembuktian hukum, tapi terseret politik hukum.


Proses penegakan hukum dalam perkara eks Jampidsus Febrie Adriansyah ini penuh dinamika. Mulai dari penggeledahan di beberapa lokasi, penahanan tanpa rompi dan borgol, mundurnya beberapa pejabat, dan lainnya. Dalam perkara kejahatan yang bernilai ekonomi sangat besar ini, diikuti dugaan korupsi, pencucian uang, penyalahgunaan kewenangan, dan indikasi keterlibatan berbagai pihak, kerap menarik perhatian publik, sehingga muncul banyak pendapat dan tafsir.

“Fenomena ini dapat dipahami dalam perspektif kriminologi sebagai konsekuensi dari karakter high-profile crime karenanya perlu ditindaklanjuti dengan follow the money/asset/crime/beneficial owner termasuk badan hukum yang dipergunakan dan terafliasi dalam kejahatan dimaksud,” saran Azmi.

Halaman Selanjutnya:
Kejahatan berprofil tinggi memiliki...

0 Response to "Dugaan Korupsi Ferdi Ardiansyah Tinjauan dari Pengamat Hukum"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan atas adtikel

.