Menyingkap Rahasia Alas Purwo - Candi Borobudur
Februari 19, 2026
Add Comment
Rilis dari : ( Rumah Sehat Nusantara)
Tentang Panggilan, Pemurnian, dan Penjaga Sunyi
Foto: team RSN di Situs Kawitan
Beberapa waktu lalu, kami merencanakan meet & greet RSN di Bali. Semua sudah tersusun rapi. Jadwal beres. Tiket aman. Hati ringan.
Namun sebelum keberangkatan, teman-teman Clairvoyance menerima pesan dari yang mereka sebut sebagai “Langit", sebuah perintah halus namun tegas... “Segera ke Alas Purwo dan Borobudur.”
Tak ada debat. Tak ada logika panjang. Jika Langit memanggil, tugas kami adalah hadir.
Dari Bali, kami menyeberang menuju Banyuwangi. Tanggal 16 Februari 2026, kami melangkah masuk ke Alas Purwo. Bukan sebagai wisatawan. Bukan sebagai pencari sensasi. Tetapi sebagai pejalan yang membawa napas.
Situs Kawitan... Titik Awal yang Tua. Tujuan pertama kami adalah Situs Kawitan.
Kawitan… Kata itu sendiri berarti asal, mula, akar.
Kami duduk hening... Tak ada ritual ramai. Tak ada simbol berlebihan. Hanya satu, sadar napas.
Aku menarik napas perlahan. Mengembuskan perlahan. Masuk… keluar… Masuk… keluar…
Dan di sana, aku merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa biasa.
Energinya besar. Bukan besar yang kasar. Tapi besar yang sunyi. Seperti samudra yang diam namun dalamnya tak terukur.
Hema, yang memiliki kepekaan clairvoyance, melihat sesuatu terjadi. Dia berkata ada pergeseran, seperti aktivasi, seperti pemurnian.
Bukan kami yang “menguasai” tempat itu. Justru sebaliknya.
Kami hanya menjadi saksi. Bahwa ketika napas sadar menyentuh titik bumi yang tua, frekuensi lama yang tertidur bisa bangun kembali.
Aku menyadari... RSN bukan sekadar komunitas. RSN adalah medium. RSN adalah jembatan antara Langit dan bumi.
Esoknya kami menuju Goa Istana. Perjalanan tidak nyaman. Jalanan becek. Langkah pelan. Begitulah memang jalannya menuju ruang bawah sadar bumi... tidak selalu kering dan bersih.
Sesampainya di depan Goa, Hema berhenti. Dia tidak mau masuk. Katanya, banyak makhluk astral dengan rupa menyeramkan.
Frekuensinya padat. Gelap. Tajam.
Aku mengangguk. Bukan untuk menantang. Bukan untuk membuktikan apa-apa.
Tapi karena aku tahu... ketika Langit memerintah, perlindungan sudah lebih dulu hadir... Aku masuk.
Di dalam Goa Istana, udara terasa berat. Seperti ruang yang lama tidak disentuh cahaya kesadaran. Aku duduk dalam sila... Booster... Berdoa. Bukan dengan amarah. Bukan dengan pengusiran. Tapi dengan cinta dan otoritas cahaya.
Beberapa saat kemudian, suasana berubah. Getarannya melunak. Udara terasa lapang.
Setelah saya keluar, Hema dan dua clairvoyance lain mengatakan, “Sudah clear bang eL.”
Clear bukan berarti kosong. Clear berarti frekuensinya kembali selaras.
Alas Purwo sering dikenal sebagai hutan mistis. Sebagian orang datang untuk mencari pesugihan. Sebagian untuk bertapa. Sebagian untuk membuktikan keberanian.
Namun bagiku, Alas Purwo adalah simbol
Alas = hutan
Purwo = awal
Hutan awal... Tempat di mana kesadaran diuji sebelum peradaban.
Perjalanan ini bukan tentang menaklukkan makhluk astral. Bukan tentang menunjukkan kesaktian. Ini tentang pemurnian titik-titik energi bumi. Ini tentang mengembalikan kesadaran ke asalnya.
Dan aku sadar… TEAM RSN tidak datang karena kebetulan. Kami datang karena dipanggil.
Ketika manusia sadar napas, ia bukan hanya menyembuhkan dirinya. Ia bisa menjadi kanal penyelarasan ruang.
Sebenarnya, Alas Purwo bukan hanya di Banyuwangi... juga ada di dalam diri kita. Ada hutan purba di batin kita. Ada Goa Istana di bawah sadar kita. Ada makhluk-makhluk ketakutan yang belum tersentuh cahaya. Dan satu-satunya jalan masuk adalah sadar napas. Karena napas adalah kunci. Napas adalah obor. Napas adalah izin Langit.
Perjalanan ke Alas Purwo mengingatkanku lagi... bahwa aku bukan penyembuh. Aku hanya penjaga frekuensi. Aku hanya pengingat cahaya. Dan jika suatu hari Langit kembali memanggil, aku tahu... kami akan melangkah lagi.
Lanjut ke Mandala Batu
Setelah Banyuwangi, setelah pemurnian di Alas Purwo, kami tidak langsung pulang. Hari ini, saat aku merangkai tulisan ini, kami lanjutkan perjalanan... Kami bergerak menuju Magelang. Menuju Borobudur.
Aku tidak tahu detailnya. Pesannya tidak jelas. Hanya rasa dan perintah... harus ke sana.
Dan ketika Langit berbicara tanpa menjelaskan alasannya, itu berarti tugasnya bukan untuk dipahami dulu, tapi untuk dijalani.
Borobudur - Gunung Kesadaran
Borobudur bukan sekadar candi. Itu adalah mandala raksasa. Itu adalah peta perjalanan jiwa.
Dibangun pada abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra, Borobudur menyimpan 10 tingkat perjalanan... dari dunia hasrat, menuju dunia bentuk, hingga ke arupadhatu... ruang tanpa bentuk.
Kami belum tiba, aku sudah merasakan getaran yang berbeda dari Alas Purwo. Alas Purwo adalah hutan bawah sadar. Borobudur adalah struktur kesadaran.
Jika Alas Purwo seperti rahim bumi, Borobudur seperti mahkota.
Di dalam batinku muncul satu kesadaran... Alas Purwo - timur; Borobudur - tengah. Seolah ada garis tak terlihat yang menghubungkan titik-titik tua Nuswantara. Dan kami hanya bergerak mengikuti alurnya.
Aku tidak berani mengklaim apa pun. Aku tidak mau membesar-besarkan. Tapi aku merasakan... perjalanan ini bukan tentang tempatnya saja. Ini tentang penyelarasan.
Seolah Langit sedang menyusun ulang sesuatu. Seolah ada grid yang disentuh kembali. Seolah napas yang kami bawa menjadi kunci kecil dalam mekanisme besar.
Dan yang paling membuatku terdiam… di Alas Purwo kami “membersihkan”; di Borobudur kami “menyelaraskan”.
Apa pesan dari Langit? Aku tidak tahu sepenuhnya. Tapi setelah perjalanan ini, ada perubahan dalam diriku. Napas lebih dalam. Doa lebih sunyi. Otoritas lebih tenang.
Aku mengerti satu hal... Ketika seseorang berjalan bukan karena ego, bukan karena ingin terlihat sakti, tapi karena taat pada panggilan, maka bumi sendiri akan membuka jalannya.
Perjalanan TEAM RSN kali ini seperti alkimia...
Alas Purwo - elemen tanah dan bayangan.
Borobudur - elemen batu dan cahaya.
Tanah dibersihkan. Cahaya diselaraskan.
Dan aku sadar… Mungkin Langit tidak selalu memberi tahu “apa”. Karena tugas kita bukan mengetahui semuanya. Tugas kita hanya satu... Hadir. Sadar. Bernapas.
Dan jika suatu hari nanti Langit kembali memanggil, entah ke gunung, laut, atau titik sunyi lainnya, aku akan melangkah lagi bersama napas... bersama RSN... bersama cahaya yang tidak perlu diumumkan, karena ia bekerja dalam diam.
Rilis dari : (Team Rumah Sehat Nusantara
0 Response to "Menyingkap Rahasia Alas Purwo - Candi Borobudur "
Posting Komentar